Catatan awal perjalanan meninggalkan dunia konsultan dan memasuki sebuah perusahaan daerah yang sedang bergulat dengan persoalannya sendiri.

 Oleh Olahara Lambertus

“Saya penasaran, Pak. Karena setahu saya, perusahaan ini rugi terus.”

Jawaban itu meluncur begitu saja ketika tim penguji menanyakan alasan saya ingin memimpin PDAM Kabupaten Lembata. Tidak terdengar seperti jawaban seorang calon direktur yang telah menyiapkan kalimat hebat. Namun, itulah jawaban paling jujur yang saya miliki.

Sebelum hari itu, hidup saya berjalan di jalur yang cukup nyaman. Saya memimpin perusahaan konsultan teknik yang bergerak dalam perencanaan dan pengawasan konstruksi. Hari-hari saya akrab dengan gambar, kalkulasi, jadwal proyek, dan keputusan yang dapat diambil dengan cepat. Saya tidak sedang mencari pekerjaan baru.

Sampai sebuah telepon dari Yohanes, sahabat dekat saya, mengubah arah percakapan dan perlahan mengubah arah hidup.

Panggilan di Luar Zona Nyaman

Ketika Yohanes meminta saya datang ke ruangannya, saya mengira ada pekerjaan teknis yang perlu kami selaraskan. Namun, sesampainya di sana, ia tidak membicarakan proyek.

“Kau tinggalkan dulu perusahaanmu. Serahkan kepemimpinan kepada staf kepercayaanmu. Di PDAM Lembata akan diadakan seleksi direktur. Kamu masuk dan benahi lembaga itu.”

Saya tertawa kecil. Saat itu perusahaan kami sedang menangani beberapa proyek pemerintah dan pekerjaan swasta, termasuk perencanaan hotel dan kafe. Keadaan sedang mapan. Saya lalu menjawab dengan setengah bercanda, “Lagi banyak pekerjaan nih, Bro. Lagi pula, itu lembaga pelat merah. Intervensi politiknya tinggi. Eh, bagaimana dengan penghasilannya?”

Yohanes tidak ikut tertawa. Ia hanya menatap saya dan berkata, “Kau cari apa lagi? Kau punya kapasitas untuk atasi itu.”

Kalimat singkat tersebut terbawa pulang dan terus mengusik pikiran saya. Keraguan belum hilang sampai saya bertemu Yoseph, sosok yang saya anggap sebagai kakak sekaligus panutan. Ia dikenal bersih, jauh dari kepentingan politik praktis, dan selalu menaruh perhatian pada persoalan sosial serta kemiskinan di daerah.

“Saya ingin kamu ikut mendaftar. Saya mau lihat kamu bisa mengatasi krisis di sana atau tidak,” katanya.

Dua orang yang saya hormati menyampaikan kepercayaan yang sama. Sejak itu, pertanyaan saya perlahan berubah. Saya tidak lagi hanya bertanya tentang apa yang harus ditinggalkan, tetapi juga tentang apa yang mungkin dapat saya kerjakan bagi masyarakat.

Restu Keluarga dan Sembilan Belas Lembar HVS

Keputusan terberat justru harus dibawa pulang ke rumah. Saya perlu menjelaskan bahwa kehidupan keluarga mungkin berubah: dari seorang pengusaha swasta yang leluasa mengatur waktu menjadi pemimpin lembaga publik yang setiap langkahnya berada dalam sorotan.

“Mace, beta mau ikut seleksi direktur di PDAM,” kata saya kepada istri setelah kami selesai berjoging sore.

Ia terdiam sejenak sebelum mengajukan pertanyaan yang sangat masuk akal: apakah saya sudah siap secara mental meninggalkan kebebasan di dunia swasta dan memasuki lembaga dengan intervensi yang besar? Ia juga mengingatkan agar pilihan itu tidak membuat hidup kami semakin sulit. Namun, pada akhirnya ia berkata, “Kalau kamu sudah siap, aku mendukung.”

Anak-anak sempat memprotes kemungkinan berkurangnya waktu bersama dan berubahnya rencana liburan. Setelah percakapan hangat yang diselingi canda, mereka pun berdiri di belakang saya.

Lalu datanglah ujian pertama yang sama sekali tidak berhubungan dengan strategi bisnis: menulis surat lamaran dengan tangan.

Tulisan tangan saya tidak pernah benar-benar rapi sejak sekolah dasar. Sepanjang karier di dunia swasta, baru kali itu saya harus membuat surat lamaran kerja resmi. Putri bungsu saya, Mishel, tertawa melihat ayahnya berjuang di depan kertas. Sembilan belas lembar HVS menjadi korban sebelum akhirnya lahir satu surat lamaran yang cukup layak untuk diserahkan.

Satu Jawaban Jujur di Ruang Seleksi

Seleksi berlangsung melalui ujian tertulis, pemaparan makalah, dan serangkaian psikotes. Seusai pemaparan, tim penguji tidak langsung membedah gagasan yang saya tawarkan. Mereka justru mengajukan satu pertanyaan mendasar.

“Melihat rekam jejak Anda yang sudah mapan di dunia swasta, apa sebenarnya motivasi Anda ingin memimpin PDAM?”

Di situlah jawaban tentang rasa penasaran tadi muncul. Singkat, polos, dan mungkin jauh dari bahasa wawancara yang ideal. Anehnya, sesi itu berakhir tanpa pembahasan panjang terhadap makalah saya.

Pada akhir psikotes, psikolog menyampaikan sebuah pesan yang saat itu saya dengar sebagai nasihat biasa.

“Pembenahan di perusahaan swasta bisa berjalan cepat dan taktis. Namun, dinamika di BUMD sangat berbeda. Jika Anda terpilih nanti, minimalkan rasa tidak nyaman itu.”

Saya melewati seluruh rangkaian seleksi dengan skor tertinggi dan diumumkan sebagai kandidat terpilih untuk memimpin PDAM Kabupaten Lembata. Saat itu saya mengira perjuangan besar telah selesai. Belakangan saya memahami bahwa seleksi itu baru pintu masuk.

Kursi Direksi dan Angka di Balik Predikat “Sehat”

Pada 5 Oktober 2022, seusai pertemuan perkenalan dengan jajaran pimpinan dan seluruh pegawai, seorang staf mengantar saya ke ruang kerja direktur. Ruangan itu sangat sederhana, tanpa penyejuk udara. Deretan kursinya telah lapuk dimakan usia.

Hal pertama yang saya lakukan adalah meminta laporan kinerja hasil audit BPKP selama lima tahun terakhir. Seorang pejabat bidang keuangan menyerahkan dokumen tersebut sambil menjelaskan dengan nada optimistis bahwa simpulan akhirnya menempatkan perusahaan dalam kategori “Sehat”.

Saya tidak ingin berhenti pada predikat. Saya mencari laporan laba rugi, arus kas, serta perhitungan metode Springate atau S-Score yang digunakan untuk membaca risiko kebangkrutan perusahaan.

S-Score yang Meruntuhkan Mental

Begitu membuka laporan laba rugi tahun buku 2021, saya terdiam. Perusahaan mencatat kerugian sebesar Rp877 juta.

Saya masih berusaha berpikir rasional. Dalam akuntansi, laba rugi turut memperhitungkan beban nonkas seperti penyusutan. Saya berharap S-Score perusahaan masih positif atau setidaknya tidak melewati batas terburuk yang saat itu ada dalam perkiraan saya.

Angka yang saya temukan:

S-Score PDAM Lembata berada pada -5,0, sedangkan kas dan setara kas pada akhir periode hanya tersisa Rp265 juta.

Dalam analisis Springate, angka serendah itu menunjukkan tekanan keuangan yang sangat berat dan risiko kebangkrutan yang serius. Predikat “Sehat” yang baru saja saya dengar terasa berjarak jauh dari angka-angka di dalam laporan.

Di ruangan yang gerah tanpa AC itu, keringat dingin membasahi pelipis saya. Satu pikiran muncul begitu saja: “Aku telah melangkah masuk ke tempat yang salah.”

Pertanyaannya sederhana, tetapi jawabannya akan menentukan perjalanan berikutnya: berhenti sekarang atau lanjutkan?

“Gosokan Mental” dari Rumah

Malam itu saya kembali melakukan kebiasaan yang sudah lama ditinggalkan: menyalakan sebatang rokok. Melihat saya duduk melamun, istri tidak datang membawa kata-kata penghiburan. Ia memilih meledek.

“Lah, anak Mapala, pendaki gunung yang terbiasa menaklukkan tebing, baru sehari duduk di kursi direktur sudah down? Gimana to, Mas Bro?”

Candaan itu tepat menyentil harga diri saya. Jika jalur terjal dan cuaca ekstrem pernah saya hadapi di gunung, mengapa satu laporan keuangan harus membuat saya menyerah pada hari pertama?

Delapan Puluh Tujuh Hari untuk Menguji Diri

Pada 6 Oktober 2022, saya memutuskan bertahan. Waktu menuju penutupan buku tinggal delapan puluh tujuh hari. Saya mulai membedah anatomi keuangan perusahaan dan menemukan empat faktor utama yang harus dihadapi:

  1. Beban gaji pegawai, pengeluaran rutin yang wajib dipenuhi dan tidak dapat serta-merta dikurangi.
  2. Biaya operasional, sangat fluktuatif dan terus membengkak karena jaringan perpipaan telah tua dan aus.
  3. Penyertaan modal, belum tersedia sehingga investasi dan pemeliharaan mengandalkan kas internal yang sangat terbatas.
  4. Tarif dasar air, hanya Rp1.500 per meter kubik dan termasuk salah satu yang terendah di Indonesia.

Menaikkan tarif merupakan salah satu cara paling langsung untuk memperbaiki arus kas. Namun, saya menghadapi pertanyaan etis: pantaskah seorang direktur baru, yang belum menunjukkan hasil kerja dan belum memperbaiki layanan, langsung membebankan kenaikan tarif kepada masyarakat?

Bagi saya, jawabannya jelas. Pilihan pertama bukan menaikkan tarif, melainkan menekan biaya operasional dan membuktikan bahwa pembenahan dapat dimulai dari dalam perusahaan.

Delapan puluh tujuh hari itu menjadi masa uji pertama. Saya belum tahu apakah kapal yang nyaris karam masih dapat diapungkan. Namun, saya telah memilih untuk tidak meninggalkannya pada hari pertama.

Bersambung: Kapal yang Nyaris Karam Mulai Mengapung.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

STRONG COLUMN–WEAK BEAM: Mengapa Kolom Harus Lebih Kuat daripada Balok?

MENGENAL “SOFT STORY”: MENGAPA LANTAI DASAR BANGUNAN DAPAT RUNTUH SAAT GEMPA?