Navigasi Kepemimpinan — Bagian 3: Langkah Konsisten Menuju PDAM Lembata Tangguh

 Olahara lambertus

Pada bagian sebelumnya, Perjalanan Meninggalkan Dunia Konsultan dan Memasuki Sebuah Perusahaan Daerah yang Sedang Bergulat dengan Persoalannya Sendiri. Perjalanan ini sampai pada satu titik penting: kapal yang nyaris karam mulai menemukan daya apungnya. Delapan puluh tujuh hari menguji diri mengambil sisa hari ditahun penutupan buku sebagai ajang menguji terakhir tahun 2022 kami lalui dengan satu tujuan paling mendasar—menahan kebocoran, menjaga operasi tetap berjalan, dan memastikan perusahaan tidak tenggelam.

Memasuki tahun 2023, tantangannya berubah. Bertahan saja tidak lagi cukup. Kapal yang mulai mengapung itu harus menentukan arah, menata kembali awaknya, memperbaiki cara kerja, dan perlahan mulai berlayar.

Dari sinilah langkah berikutnya dimulai: sebuah upaya untuk bergerak lebih konsisten menuju PDAM Lembata yang modern, mandiri, dan tangguh.


Kapal yang nyaris karam itu belum sampai ke pelabuhan. Namun, ia mulai menemukan daya apungnya, dan saya memilih tetap berada di dalamnya.

Tahun Penuh Pertama

Tahun 2023 menjadi tahun penuh pertama saya berada di kursi direksi. Delapan puluh tujuh hari terakhir pada 2022 telah kami lewati dengan menahan laju kebocoran, menjaga operasi tetap berjalan, dan memastikan kapal tidak tenggelam. Memasuki tahun yang baru, tantangannya berubah. Bertahan saja tidak lagi cukup. Kapal ini harus mulai berlayar.

Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan disusun dalam keterbatasan sumber daya dan kondisi keuangan yang masih berat. Saya memilih skenario optimistis dalam Rencana Bisnis sebagai landasan RKAP 2023. Optimisme itu bukan penyangkalan terhadap masalah. Ia adalah keputusan untuk menetapkan arah ketika organisasi masih mudah kehilangan harapan.

Arah tersebut dirumuskan dalam visi berikut:

Menjadikan PDAM Kabupaten Lembata sebagai Badan Usaha Milik Daerah yang modern, mandiri, dan memberikan kontribusi bagi Pendapatan Asli Daerah.

Visi itu dijabarkan ke dalam lima misi:

  • Meningkatkan profesionalisme pengelolaan perusahaan melalui evaluasi berkala dan berkelanjutan terhadap sumber daya yang tersedia.
  • Membangun layanan PDAM Kabupaten Lembata yang berkarakter dan bertumpu pada keterampilan, pengetahuan, serta sikap kerja.
  • Membenahi jaringan distribusi dan membentuk zona pelayanan sesuai karakteristik topografi.
  • Mendorong digitalisasi pelayanan dan operasional untuk memenuhi prinsip 4K, yaitu kuantitas, kualitas, kontinuitas, dan keterjangkauan.
  • Meningkatkan kemampuan perusahaan untuk memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah dan pembangunan Kabupaten Lembata.

Rumusan itu tampak berani untuk perusahaan yang baru saja melewati masa kritis. Namun, justru karena kondisinya berat, organisasi membutuhkan tujuan yang cukup jelas untuk menggerakkan orang. Jiwa pendaki dalam diri saya terusik. Saya telah masuk ke dalam pusaran masalah; saya tidak mungkin menyelesaikannya dengan cara yang sama seperti sebelumnya.

Memetakan Prioritas Perubahan

Saya kemudian memetakan misi tersebut untuk menemukan persoalan yang paling menentukan. Pertanyaannya sederhana: bagian mana yang harus lebih dahulu dibenahi agar perbaikan berikutnya ikut bergerak?

Jawabannya berada pada misi pertama, yaitu profesionalisme pengelolaan dan evaluasi sumber daya. Jika fondasi ini diperbaiki, kualitas layanan dan karakter kerja akan ikut berubah. Adapun pembenahan jaringan, digitalisasi, dan kontribusi terhadap PAD membutuhkan strategi investasi serta kemampuan keuangan yang tidak dapat dibangun dalam satu langkah.

Kelemahan profesionalisme sudah terlihat sejak masa awal saya menduduki kursi direksi. Catatan penilaian kinerja BPKP pada periode sebelumnya mempertegas persoalan tersebut. Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan belum sepenuhnya disusun sesuai Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 118 Tahun 2018, belum berbasis pada Rencana Bisnis, dan sampai 2022 manajemen belum melakukan evaluasi yang memadai terhadap pencapaian Rencana Bisnis.

Saya berhenti cukup lama pada catatan itu. Bagaimana sebuah perusahaan dapat mengukur kemajuan jika rencana tahunan tidak terhubung dengan arah bisnisnya? Dari sana saya memahami bahwa pekerjaan pertama bukan membuat sebanyak mungkin program, melainkan menyambungkan kembali perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.

Lampu Kuning Struktur Organisasi

Ketika kapal mulai mengapung, persoalan lain terlihat di dalam tubuh organisasi. Ada rangkap jabatan dan rangkap tugas. Seorang kepala seksi juga menjalankan pekerjaan staf akuntansi dan anggaran, sementara kepala seksi lain tidak memiliki staf. Pada bagian teknik, kemampuan membaca dan mengelola dokumen perencanaan masih terbatas. Dokumen peta jaringan dan gambar rancangan jaringan juga tidak tersedia secara memadai. Di bagian lain, hubungan saudara kandung berada dalam satu garis komando yang menangani urusan keuangan.

Bagi saya yang lama bekerja di perusahaan swasta, susunan seperti itu sulit dianggap wajar. Namun, membenahi organisasi tidak semudah memindahkan nama pada bagan. Ketersediaan pegawai dengan kompetensi yang sesuai sangat terbatas. Merekrut pegawai baru pun belum mungkin dilakukan ketika kondisi keuangan perusahaan masih minus.

Sebagai orang baru di dalam perusahaan, saya juga harus berhadapan dengan budaya dan kebiasaan kerja yang telah terbentuk lama. Saya teringat ucapan psikolog dalam sesi psikotes saat seleksi direktur: saya cenderung ingin semua pekerjaan berjalan sempurna, sedangkan tantangan terbesar kelak adalah menerima bahwa budaya kerja tidak dapat dirombak secepat di perusahaan swasta.

Peringatan itu terasa nyata. Saya tidak dapat mengubah semuanya sekaligus, tetapi juga tidak boleh membiarkan persoalan tersebut dianggap biasa. Pada 6 Januari 2023, saya menuliskannya dalam buku harian dengan satu judul: Lampu Kuning Struktur Organisasi PDAM Kabupaten Lembata. Catatan itu menjadi pengingat bahwa kapal boleh mulai bergerak, tetapi susunan kru dan pembagian tugasnya masih membutuhkan pembenahan serius.

Pendaki di Tengah Laut

Seorang pendaki mengenal medan dari pijakan kakinya. Ia membaca kontur, mencium aroma tanah dan pepohonan, lalu menyesuaikan langkah dengan perubahan cuaca. Kali ini, pendaki itu berada di tengah laut, di atas kapal yang belum benar-benar pulih, bersama kru yang kemampuan mengolah gerak kapalnya belum merata.

Saya mencoba menggali lebih dalam. Apakah ada kecurigaan? Tentu ada. Rasa penasaran yang membawa saya ke kursi direksi belum terjawab: mengapa perusahaan ini terus merugi? Saya perlu menemukan penyebabnya sebelum menentukan obat. Karena itu, setiap temuan saya kumpulkan, saya bandingkan dengan data, lalu saya simpan sementara dalam semacam laboratorium informasi. Saya tidak ingin kesimpulan lahir hanya dari kesan atau cerita sepihak.

Tantangan berikutnya adalah memilih cara yang paling mungkin untuk menggali informasi tanpa membuat organisasi merasa sedang diburu kesalahannya. Kapal harus diperiksa sambil tetap dilayarkan. Dari sinilah saya belajar bahwa perubahan organisasi membutuhkan ketegasan, tetapi ketegasan hanya bekerja jika orang mulai percaya pada arah yang dituju.

Memulihkan Moral Organisasi

Prioritas berikutnya adalah memulihkan moral organisasi dan membangun kepercayaan. Pegawai perlu melihat bahwa perbaikan bukan sekadar wacana dari ruang direksi. Mereka membutuhkan tanda yang dapat dirasakan bahwa perusahaan masih mempunyai masa depan.

Dari sisi keuangan, langkah yang paling mendesak adalah menuju pemulihan biaya. Pendapatan yang ada belum cukup menopang biaya operasi, sehingga penyesuaian tarif menjadi pilihan yang sulit dihindari. Rapat pimpinan sempat mengkhawatirkan langkah tersebut. Pada masa sebelumnya, kenaikan tarif pengisian mobil tangki di stasiun air curah pernah dibatalkan setelah pelanggan menyampaikan protes melalui demonstrasi. Pengalaman itu meninggalkan kehati-hatian yang kuat di dalam organisasi.

Kami kemudian menyiapkan keputusan dengan lebih cermat. Penyesuaian tarif pengisian air curah untuk mobil tangki akhirnya dapat ditetapkan tanpa gejolak. Pada saat yang sama, surat usulan dan kajian akademik mengenai penyesuaian tarif pelanggan disampaikan kepada Kuasa Pemilik Modal. Setelah melalui pembahasan, pada Agustus 2023 penyesuaian tarif ditetapkan melalui Keputusan Bupati.

Tarif baru tersebut masih berada di bawah batas bawah yang ditetapkan dalam keputusan gubernur mengenai batas atas dan batas bawah tarif air minum kabupaten dan kota di Nusa Tenggara Timur. Artinya, kebijakan ini belum sepenuhnya membawa perusahaan ke kondisi pemulihan biaya. Namun, keputusan tersebut memberi ruang bernapas dan, yang tidak kalah penting, dapat dijalankan tanpa penolakan besar dari masyarakat.

Dengan sisa empat bulan menuju penutupan tahun buku, pertanyaan kami belum selesai: apakah tambahan ruang itu cukup untuk membuat kapal yang mulai menemukan daya apungnya benar-benar bergerak?

Titik Balik Kepercayaan

Kepercayaan organisasi tidak tumbuh dari satu keputusan. Ia dibangun ketika orang melihat hubungan antara rencana, tindakan, dan hasil. Salah satu dorongan moral datang dari keikutsertaan PDAM Kabupaten Lembata dalam TOP BUMD Awards 2023. Dalam proses penjurian, perusahaan memperoleh penghargaan Bintang 3 sebagai perusahaan kecil yang sedang berbenah melalui inovasi.

Penghargaan itu bukan tanda bahwa seluruh persoalan telah selesai. Bagi organisasi yang lama bekerja di bawah bayang-bayang kerugian, pengakuan dari luar memberi pesan penting: usaha perbaikan mulai terlihat. Semangat sebagian pegawai tumbuh karena mereka tidak lagi hanya mendengar janji perubahan; mereka melihat bahwa pekerjaan bersama mulai mendapatkan tempat.

Di dalam diri saya tetap muncul pertanyaan yang lebih besar. Apakah Rencana Bisnis yang disusun sudah cukup menampung harapan agar perusahaan yang tertatih-tatih ini benar-benar mempunyai masa depan? Jawabannya belum final. Namun, kami kini memiliki sesuatu yang sebelumnya rapuh: kepercayaan bahwa perubahan itu mungkin.

Lampu Kapal Mulai Terlihat

Menuju PDAM Kabupaten Lembata Modern dan Mandiri dipilih sebagai tema Laporan Tahunan Perusahaan 2023. Tema itu merangkum semangat untuk memperbaiki pelayanan, menjaga pemenuhan kebutuhan air minum, meningkatkan pendapatan, dan pada waktunya memberikan kontribusi bagi daerah.

Perusahaan menutup tahun buku 2023 dengan hasil yang memberi alasan untuk tetap optimistis, walaupun kondisi keuangan masih berada dalam zona minus. Produksi air meningkat dari 984.994 meter kubik pada 2022 menjadi 1.111.480 meter kubik pada 2023. Pendapatan air bertambah dari Rp2.307.318.500 menjadi Rp3.010.525.000. Hasil audit juga mencatat kerugian turun tajam, dari sekitar Rp762 juta pada 2022 menjadi sekitar Rp88 juta pada 2023.

Angka-angka tersebut belum berarti kapal telah sampai di pelabuhan. Perusahaan masih mencatat rugi dan fondasi organisasinya belum sepenuhnya kuat. Namun, jarak antara kerugian 2022 dan 2023 menunjukkan bahwa arah perbaikan mulai memberi hasil. Bagi kami, itulah cahaya pertama yang terlihat setelah perjalanan panjang dalam gelap.

Layar kapal mulai dinaikkan. Di kejauhan, lampu-lampu mulai tampak. Kapal ini belum menjadi kapal yang tangguh, tetapi ia tidak lagi hanya sibuk menahan air yang masuk. Ia mulai bergerak dengan arah yang lebih jelas, membawa seluruh kru melangkah konsisten menuju PDAM Lembata yang modern, mandiri, dan tangguh.

Bersambung: Ketika Lampu Kuning Menuntut Perubahan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

STRONG COLUMN–WEAK BEAM: Mengapa Kolom Harus Lebih Kuat daripada Balok?

Merencanakan Permukimanan, Merencanakan Keselamatan

Catatan awal perjalanan meninggalkan dunia konsultan dan memasuki sebuah perusahaan daerah yang sedang bergulat dengan persoalannya sendiri - BAGIAN 1